Friday, October 31, 2014

Ngaji Hikam : BAB 2

Saturday, October 25, 2014

Ngaji hikam : bab 2


Ngaji Hikam : BAB 2


Ibnu Athaillah brkata: ''Kehendakmu utk tajrid tatkala Allah tempatkanmu pd status asbab, adalah syahwat yg tersembunyi. Sedangkan kehendakmu pd asbab tatkala Allah menempatkanmu pd status tajrid, adalah kemerosotan dari cita cita yg tinggi''
Hikmah ini berkisar pada dua poros; yg 1 disebut''tajrid'', yang 1 lagi disebut ''asbab''. Apakah arti dari dua kalimat itu?
Kita selalu dihadapkan pada 2 keadaan ini, tajrid dan asbab. Maka penting bagi kita untuk mengilmui keduanya.
[1] seseorang mendapati dirinya tersandera oleh alam asbab (sebab-sebab dan perantara).
Kemana dia bergerak, dia tidak bisa menghindar dari sebab sebab dan perantara. Inilah yg disebut keadaan ''asbab''.

[2] Seseorang mendapati dirinya terjauhkan dari pengaruh asbab; ia tidak memiliki jalan menuju asbab, Keadaan ini disebut keadaan ''tajarrud'' atau''tajrid'' (terlepas dari sebab-sebab dan perantara).
tiap mukmin harus melihat status yg telah ditentukan Allah untuk dirinya, lalu dia beramal sesuai dengan status itu. Ia tidak boleh terburu mengikuti kemauannya sendiri tatkala menerapkan tatanan asbab atau tajrid dengan tanpa terlebih dahulu memperjelas keadaan & posisi yg telah ditentukan Allah untuknya.
Jika yang terjadi sedemikian halnya, maka sesungguhnya ia sedang menuruti kemauannya sendiri, meskipun di permukaan tampaknya ia sedang menjalankan perintah Allah dan melaksanakan hukum hukum-Nya.
Mari kita uraikan hikmah ini melalui gambaran gambaran dari peristiwa peristiwa yang kita alami.
Seseorang yg diberi wewenang oleh Allah menjadi kepala rumah tangga, dengan seorang istri dan beberapa anak. Dengan demikian, dia telah diliputi sebab2 yang menariknya untuk mencari rezeki dan bekerja keras untuk memperoleh rezeki. Bayangkan kalau orang ini berusaha naik pada tingkatan kesalehan & ketakwaan, menuju tangga tauhid dan tawakal seraya berkata dalam hatinya: aku tidak perlu lagi ke pasar, tak perlu lagi bekerja keras untuk mendapatkan rezeki, Karena aku yakin dengan firman Allah: Maka mintalah rezki itu di sisi Allah. (QS al-˜Ankabut[29]: 17)
Aku akan melepaskan diri dari kesibukan duniawi, dari kesibukan di pasar, menuju ibadah kepada Allah. Lalu org ini pun berhenti ke pasar, tak lagi bekerja dengan dalih bahwa ia akan menenggelamkan diri dalam lautan tauhid.
Dia tak lagi berhubungan dg sebab sebab, karena ia telah memandang pada Dzat yg menciptakan sebab sebab itu (Allah SWT)!
Maka org ini adalah contoh yg pas utk hikmah ke-2 Ibnu Atho'illa ini, dan ia harus diperingatkan dg hikmah itu. Kita katakan kpdnya: ''Kehendakmu untuk tajrid tatkala Allah menempatkanmu pd status asbab, merupakan syahwat tersembunyi.'' ia tampak sedang menerapkan sikap ketauhidan, namun hakikatnya ia sedang mengikuti hawa nafsunya. Kenapa begitu?, Ya, krn Allah telah menempatkannya pada posisi asbab, sebagai kepala rumah tangga, maka mestinya ia bekerja. Itu perintah Allah, Tapi ia tak mau bekerja, malah ibadah terus untuk wushul pada Allah. Sejatinya ia sedang mengikuti nafsunya yg tersembunyi. Orang macam ini telah berperangai buruk pada Allah, dengan memaksakan diri lepas dr tatanan alam-Nya dan ketentuan-Nya. Maka bagi orang yang diposisikan dalam status asbab, bekerja itulah ibadahnya, bahagiakan kelurga itulah wiridnya.
Menganggap ibadah terbatas pada amalan amalan tertentu saja, sedangkan selain itu hanya urusan duniawi, adalah keliru fatal!!!!
Seluruh perbuatan baik itu ibadah, jika dengan niat yg benar & ikhlash karena Allah SWT. Hanya saja perbuatan baik juga melihat keadaan tiap orang dan tugas tugas yang ditetapkan Allah pada masing masing mereka. Maksudnya, tak semua perbuatan baik itu juga baik utk semua org. Kebaikan atau ketidak-baikan suatu perbuatan bergantung pada keadaan org yg melakukan perbuatan itu, serta pada posisi yg tlh ditentukan oleh Allah untuk org itu. Bagi orang yang kehidupannya oleh Allah dipisahkan dari relasi sosial, dijauhkan dari tanggung-jawab rumah tangga, amal salehnya terwujud dlm ibadah personal yg faedahnya kembali pada orang itu saja.Bagi orang yg oleh Allah ditempatkan dlm posisi penangung-jawab sosial-politik, amal salehnya terwujud dlm melayani umatnya. Bagi yg bertugas menjaga perbatasan negara, amal salehnya adalah menjalankan tugas tugas khususnya dengan ikhlas. Begitu seterusnya, dengan catatan kita tidak melupakan kewajiban pokok, seperti salat lima waktu, puasa, dll
Selanjutnya, ada orang orang yang oleh Allah dijauhkan dari keterhubungan dengan asbab (sebab-sebab dan perantara) Zaid, misalnya, tidak memiliki tanggung jawab apapun, terkait dengan istri, anak-anak, kerabat dan famili. Sementara ia telah memiliki bekal penghidupan yg cukup plus hal-hal pokok lain yang diperlukan. Dlm keadaan ini, si Zaid akan ditarik oleh dua kecenderungan yang bertolak belakang.
Kecenderungan pertama berkata: В“Kini kamu telah memiliki sarana sarana yg cukup utk hidupmu. Kenapa kau tidak cukupkan dg itu saja? Tinggalkan keinginanmu untuk menambah kekayaan dunia yang tidak kau perlukan itu, lalu waktumu kau gunakan utk memperdalam pengetahuan agama, menjalankan ibadah dan melayani agama Allah SWT?В”
kecenderungan kedua hatinya akan berkata: В“Bangkit dan carilah tambahan rezeki. Karen Allah membenci hamba yang menganggur. Dahulu Umar RA mendatangi para pengangguran di masjid dan memukuli mereka dengan tongkatnya. Menurut Anda, apa yang seharusnya dilakukan orang ini (Zaid), dan seruan mana yang mestinya ia penuhi?
Nah, yang menjawab pertanyaan itu adalah bagian terakhir dari hikmah kedua Ibnu в€˜Aб¹­aв€™illДh tersebut, yakni: в€œKehendakmu untuk tajrid tatkala Allah menempatkanmu pada status asbab, adalah syahwat yg tersembunyi.в€ Maksudnya, jika Anda hendak bermalas-malasan karena mengandalkan bekal penghidupan yang cukup itu. Anda makan, minum, tidur, senang senang hingga mati, maka jelas itu ciri khas kehidupan binatang.
Namun jika keterlepasan dari asbab itu membuat Anda fokus mengkaji agama Allah, terlepas dari kegiatan duniawi, maka itulah jalan yg benar. Itulah jalan yg lebih layak bagi orang2 yg berjiwa besar dan memiliki cita2 tinggi.
Sebab memang Allah telah menempatkan Anda pada keadaan tajrid (terlepas dari sebab2 dan perantara)
Maka ketimbang mengejar asbab yg oleh Allah dijauhkan dari Anda itu, lebih baik Anda menuju Allah yg в€˜mengejarв€™ Anda. tentu dengan cara melayani agama-Nya, mempelajari syariat-Nya, atau fokus beribadah kepada-Nya. Jika org yg dlm posisi tajrid itu membantah: в€œBukankah bekerja itu juga ibadah?в€ Maka pikiran seperti itu hanyalah godaan dari setan saja. Itu adalah bentuk dari kemerosotan cita2 yg tinggi. Andai pikiran spt itu benar, pasti kita akan menilai bodoh pd para pemuda yg belajar Islam di berbagai belahan dunia ini. Mereka bisa saja mengabaikan keadaan tajarrud yg ditetapkan Allah, dan memilih bekerja menumpuk kekayaan.
Tapi faktanya mereka lebih memilih belajar & beramal sesuai dg keadaan tajarrud yg telah ditetapkan oleh Allah itu.
Mereka bergegas menuju pesantren pesantren di berbagai dunia Islam, fokus belajar dan beribadah. Tak bekerja sama sekali.
Selagi para pemuda itu oleh Allah belum diserahi tanggung-jawab urusan rumah tangga, urusan masyarakat atau politik, maka kita mesti angkat topi terhadap mereka, dan menilai mereka sebagai barisan orang2 Istimewa. Tapi jika seseorang oleh Allah telah diserahi tanggung-jawab urusan rumah tangga, urusan masyarakat, dll, lalu ia malah meninggalkan tugas penting yg telah ditetapkan Allah itu, lalu fokus ibadah atau malah pergi mondok maka berarti ia telah menyalahi tatanan dan arahan Islam, menyalahi apa yg ditetapkan dan dibebankan Allah terhadapnya.
Maka, syariat adalah neraca yang bisa dijadikan ukuran untuk mengetahui keadaan setiap orang, apakah seseorang berada dlm keadaan tajarrud, terbebas dari asbab, atau sedang ada dlm keadaan terikat oleh asbab. Jika seseorang melangkahi neraca syariat lalu beralih mengikuti kecenderungan pribadinya sendiri, berarti ia telah terjerumus pada в€œsyahwat tersembunyiв€, atau в€œmerosot dari cita yg tinggi.
Sekadar contoh: seorang ayah berkata pada anaknya, в€œAku akan memenuhi segala kebutuhan hidup yang kau perlukan, kamu tak perlu bekerja, namun kamu harus fokus untuk belajar al-Quran dan mempelajari hukum2 syariat Allah.в€ Dengan demikian, berarti Allah telah menempatkan anak itu dalam posisi tajrid, berdasarkan neraca syariat dan hukum-Nya.
Maka, yang dituntut darinya adalah beramal sesuai dengan posisi yang telah ditetapkan oleh Allah ini.
Ia harus fokus untuk mempelajari kitab Allah, hukum2 syariat-Nya, dan mendalami ilmu-ilmu agama. Anak ini tak perlu diceramahi soal perintah mencari rezeki, syariat melarang kamu menganggur, dll.
Sebab perintah bekerja itu hanya bagi mereka yg punya tanggungjawab, & kebutuhan hidupnya tak dipenuhi oleh siapapun. Adapun org yg oleh Allah ditakdirkan ada penjamin kebutuhan hidupnya, maka tak boleh dikhotbahi dg hukum syariat yg itu. Terlebih, anak muda dalam contoh di sini tdk sedang menganggur, akan tetapi beralih tugas dari usaha mencari rezeki yg sudah ditanggung ayahnya itu, pada usaha mempelajari ilmu syariat & mendalami agama. Maka jika pemuda seperti ini masih memaksakan diri utk berbisnis, berarti ia telah merosot dari cita2 yg tinggi.

Demikian ngaji hikam bab 2 yg di sajikan oleh Pondok Pesatren Sidogiri (yg separuh jiwa kami masih tertinggal disana)
sumber : https://mobile.twitter.com/sidogiri

Labels: , , , , ,

hikam bab 1

“Di antara tanda kebergantungan pada amal, adalah menyusutnya harapan ketika terjadi kesalahluputan”
Adakah bergantung pada amal dianggap terpuji atau tercela?
Jawabannya: tercela. Itulah sebabnya kita dilarang bergantung pada amal baik apapun yg telah kita lakukan. Jadi dlm upaya meraih ridha Allah n balasan yg dijanjikan-Nya, jgn sampai Anda bergantung pd amal yg Anda lakukan Sebaik n sebanyak apapun amal Anda, salat, puasa, haji, sedekah, dll, jgn sampai Anda bergantung pd semua itu.
-Tapi bergantunglah pada lembutnya pengaturan Allah, anugerah dan kemurahan-Nya.
-Adakah dalil landasan bagi pernyataan ini? Ya, ada. Yaitu hadis riwayat Imam al-Bukhari, sbb:
>> “Tak seorangpun yg amalnya memasukkan ia ke dlm surga.” Sahabat bertanya: “Tdk juga Anda, ya Rasul?” Nabi menjawab: “Tidak juga aku. Namun Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku”. (HR. Al-Bukhari)
So, amal bkn nilai yg hrs dibayar utk bisa masuk surga. Krn kita beramal, maka otomatis kita berhak msk surga. Tidak
Jika amal Nabi tak jamin beliau msk surga, apalagi amal kita? (Nabi pasti msk surga krn rahmat Allah, bknkrn amal beliau)
>>lalu apa n bgmn sikap kita dlm kaitannya dgn amal2 yg kita lakukan?Apa diam saja atau bagaimana? Sikap kita adalah melakukan amal2 itu dgn ikhlas karena Allah, sekaligus berharap balasan tersebab kemurahan n anugerah-Nya.
Kita mesti yakin jika balasan itu bukan sbg upah atas amal yg tlh kita tunaikan, tapi semata kemurahan n anugerah-Nya
>>Lalu, akibat buruk apa yg akan terjadi jika kita menaruh harapan akan dpt balasan dari amal yg kita lakukan?
Ibnu Atha’illah mengatakan: akibatnya adalah, Anda akan kehilangan harapan ketika tergelincir pd kesalah-luputan. Artinya jika Anda beramal dan menaruh harapan besar jika amal Anda bisa masukkan Anda ke surga,
> Maka harapan itu akan sirna jika suatu ketika Anda tegelincir pd salah dan dosa
>> Beda halnya jika Anda beramal krn Allah, sekaligus berharap pada Allah. Tdk berharap pada amal. Anda akan terus beramal dan berharap pd Allah, sekalipun suatu waktu Anda tergelincir pd salah dosa.
Itu bedanya antara org yg beramal& bergantung pada amalnya, dgn ong yg beramal & bergantung pd Allah Demikianlah. Hikmah pertama ini telah mengajari kita akan syariat dan hakikat sekaligus.
Sebagai hamba, kita disupport utk terus beribadah dan beramal baik karena Allah. Inilah sisi syariatnya.
Lalu kita diminta bergantung pada Allah, bkn pd amal. Krn hakikat segalasesuatu dari Allah. Inilah sisi hakikatnya.

Sumber: twitter.com @sidogiri